Spurs Bisa Atasi Ajax Dengan Keberanian dan Mentalitas Pemenang

Fajar Ramadan, Sundul.com
Wednesday, 08/05/2019

London, Sundul – Pelatih Spurs, Mauricio Pochetino memiliki pengalaman dramatis mengenai babak semifinal saat ia berusaha memimpin misi penyelamatan kans Tottenham di ajang Champions League di markas Ajax.

Spurs akan bertandang ke AMsterdam Rabu besok untuk mengatasi defisit satu gol pekan lalu dan mencoba lolos ke babak final ajang Eropa perdana mereka sepanjang sejarah.

Hal itu memerlukan sesuatu yang istimewa melawan sang klub asal Belanda, yang mengalahkan Real Madrid dan Juventus di babak sebelumnya, namun hal itu mirip dengan pengalaman Pocchetino saat ia masih bermain di Amerika Selatan.

Pelatih asal Argentina tersebut merupakan bagian dari tim Newells Old Boys yang mencapai babak final Copa Libertadores edisi 1992 setelah kemenangan mendebarkan di leg kedua babak semifinal melawan klub Kolombia, America de Cali.

Setelah kedua tim bermain imbang 1-1 di Argentina, Newells yang dilatih pelatih Leeds saat ini, Marcelo Bielsa, sukses mengamankan tiket final di Kolombia lewat babaka du penalti dan melaju ke babak final melawan Sao Paulo.

Namun itu bukan akhir dari cerita.

“Saya amat ingat laga semifinal tersebut karena kami amatlah berani. Padahal sebenarnya kami tak bermain dengan berani. KArena kami mampu mencetak gol cepat lalu bermain gaya parkir bus serta hanya mengandalkan serangan balik.

“Benar, kami bermain bertahan sepanjang waktu, namun laga tersebut tetaplah menakjubkan.”

Pocchetino memang kecewa dengan permainan anak asuhnya dalam 30 menit pertama leg perdana melawan Ajax pekan lalu sebelum pendekatan berbeda yang lebih langsung dan fisikal memperlihatkan klub asal Belanda tersebut bisa ditekan.

Dan ia yakin peluang maju masih amat mungkin bila SPurs bisa meniru keberanian yang tim Newells tunjukkan 27 tahun lalu.

“Amat mungkin. MUngkin saja bila anda bermain dengan berani dan membawa mentalitas pemenang,”ujarnya. “Itu adalah hal yang paling penting.”

“Saya pikir anda, para fans, terutama para pemain, kami semua merasa kecewa karena kami tak bermain bagus di awal laga sekelas semifinal Champions League.”

“Kami tak memperlihatkan emosi atau imaji bahwa kami bermain dalam pertandingan sebesar itu.”

“Hal itu adalah mengapa kami amat sangat kecewa usai leg perdana lalu.”

77

Be the first to write a comment.

Your feedback